Maroko Dan Keterlibatannya Dalam Perang
Front Polisario Bebaskan Tawanan Perang Maroko
Kapanlagi.com – Maroko menyambut kedatangan 404 tawanan perang, yang terakhir dari lebih 2.400 orang yang dibebaskan setelah ditahan gerakan kemerdekaan Front Polisario Sahara Barat di pengasingan, beberapa diantara mereka telah ditahan lebih dari dua dasawarsa.
Dua pesawat carteran yang membawa para tawanan, beberapa diantara mereka berusia lebih dari 60 tahun, mendarat di kota Agadir, Maroko selatan, sekitar 600km dari ibukota Rabat.
Televisi pemerintah menayangkan pria-pria yang mengenakan topi basebal dan pakaian olahraga dan membawa tas olahraga menuju bus-bus setlah mendarat. Beberapa diantara mereka sujud berdoa segera setelah mereka meninggalkan pesawat.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan pembebasan para tawanan di Tindouf, Aljazair baratdaya itu menyusul penengahan AS. Mereka ditangkap oleh Polisario dalam perang gerilya yang dipicu oleh pencaplokan Rabat atas wilayah gurun itu tahun 1975.
Kepulangan tentara itu bisa meredakan ketegangan antara Maroko dan Aljazair pendukung utama Polisario, negara-negara besar di kawasan di mana Barat menginginkan stabilitas karena khawatir hal itu merupakan satu sumber bangkitnya nafsu berperang kelompok Islam garis keras.
Para tawanan itu dibawa ke sebuah pangkalan militer di Agadir untuk pemeriksaan kesehatan sebelum menemui keluarga mereka. “Saya ingin melihat keluarga saya sehat,” kata salah seorang dari mereka kepada televisi pemerintah.
Seperti halnya penyerahan para tawanan sebelumnya, relatif tidak ada hal penting. “Tidak ada rencana penting bagi kedatangan mereka,” kata satu sumber pejabat tidak lama sebelum pesawat-pesawat itu mendarat.
ICRC telah memulangkan lebih dari 2.000 tentara Maroko yang ditangkap oleh Polisario. Gencatan senjata yang ditengahi PBB tahun 1991 mengakhiri konflik senjata atas Sahara Barat, tapi pertikaian menyangkut masa depan wilayah itu belum mereda.
Sekjen PBB Kofi Annan menyambutbaik pembebasan itu dan mengharapkan tindakan tersebut “membantu mempercepat hubungan lebih baik antara pihak-pihak yang bertikai dan membantu mengatasi kebuntuan politik sekarang,” kata jurubicaranya Stephane Dujaric.
Pertikaian belum berakhir
Pernyataan-pernyataan oleh Maroko dan Front Polisario menunjukkan bahwa penengahan diplomatik yang sudah berlangsung bertahun-tahun tidak mengakhiri permusuhan mereka.
Rabat berterima kasih kepada pemerintah AS yang telah membantu mengakhiri “cobaan berat yang dialami ratusan tawanan ” yang ditahan “dengan pelanggaran mencolok hukum internasional” setelah berakhirnya konflik senjata tahun 1991.
Baik Front Polisario maupun Aljazair tidak mengucapkan terima kasih atas tindakan itu, katanya. “Pembebasan mereka adalah satu pemenuhan yang terlambat satu kewajiban internasional yang dituntut beberapa kali oleh Dewan Keamanan PBB, tapi masih diabaikan.”
Polisario mengatakan pembebasan itu bertujuan untuk menciptakan satu susana yang berguna bagi usaha utusan PBB yang baru ditunjuk untuk menyelesaikan pertikaian hampir 30 tahun menyangkut wilayah gurun, sebagian besar dikuasai Maroko tapi diklaim Front yang didukung Aljazair itu.
“Diperlukan usaha-usaha lagi bagi Maroko memenuhi hukum internasional dan mengizinkan rakyat Sahara Barat untuk menjalankan hak syah dan tidak dapat dicabut untuk menentukan nasib sendiri,” kata ketua Polisario Mohammed Abdelaziz.
Maroko, yang mengklaim hak sejarah yang berabad-abad atas wilayah gurun itn, mengatakan itu adalah satu sengketa buatan yang membantu harapan Aljazair yang kaya minyak untuk memperoleh akses ke pantai Atlantik.
Maroko telah mengeluarkan dana miliaran dolar untuk membangun wilayah Afrika baratlaut berpenduduk 260.00 jiwa itu sejak menganeksasinya setelah bekas kekuasaan kolonial Spanyol mundur tahun 1975.
Tapi negara itu menolak mengizinkan pemungutan suara bagi penentuan nasib sendiri kendatipun pernah diutarakan dalam gencatan senjata yang ditengahi PBB.
Persengketaan wilayah Sahara Barat itu telah menghambat selama tiga dasawarsa usaha untuk memperbaiki hubungan yang tegang antara Aljazair dan Maroko.
Di New York, John Bolton, dubes baru AS untuk PBB, berterima kasih kepada Aljazair dan Maroko atas peran mereka dalam pembebasan itu, yang terakhir dari 15 pembebasan tawanan seperti itu.
Senator AS Richard Lugar, ketua Komitee Luar Negeri Senat, menyaksikan pembebasan para tawanan itu di Aljazair atas nama Presiden George W.Bush dan bertemu dengan Presiden Abdelaziz Bouteflika sebelum terbang ke Maroko Kamis siang.
Pembebasan itu adalah “satu langkah konstruktif bagi perdamaian dan stabilitas di Afrika Utara,” kata Lugar dalam sebuah pernyataan,
Washington “mendukung penuh pendekatan Aljazair-Maroko dan penyelesaian politik yang damai atas masalah Sahara Barat, yang menghormati prinsip penentuan nasib sendiri,” katanya.
“AS penting untuk tetap melibatkan diri di Afrika Utara dan dunia Arab yang lebih luas sehingga kita dapat bekerja dengan sahabat-sahabat untuk memperluas kesempatan bagi demokrasi, pembangunan ekonomi dan perdamaian,” tambahnya. (*/bun)